Sabtu, 24 Maret 2018

Komisi XI DPR RI Prihatin Pelajar SMA Terjangkit Radikalisme

Jepara, Sang Pencerah Muslim



Anggota Komisi XI DPR RI H. Fathan Subchi mengaku prihatin karena radikalisme telah merasuk ke tingkat pelajar SMA. Ia menyampaikan hal itu Halaqah Kiai Muda dan Bu Nyai Muda di pesantren Al Mustaqim desa Bugel, kecamatan Bugel, kabupaten Jepara, akhir lalu. 

Komisi XI DPR RI Prihatin Pelajar SMA Terjangkit Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Komisi XI DPR RI Prihatin Pelajar SMA Terjangkit Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Komisi XI DPR RI Prihatin Pelajar SMA Terjangkit Radikalisme

Menurut dia, pelajar yang dulunya ngefans kepada kiai-kiai NU kini beralih ke tokoh-tokoh radikal dan intoleran. Karenanya politisi asal Kabupaten Demak itu berharap pelajar usia SMA sederajat dibekali dengan wawasan kebangsaan yang luas. 

Dalam kegiatan yang dihadiri puluhan peserta itu, Fathan menyatakan, halaqah tersebut mesti diteruskan kepada generasi milenial. Karena mereka kelak yang akan “berkuasa”. 

Radikalisme, sebut politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), itu sangat mengganggu stabilitas ekonomi maupun stabilitas-stabilitas yang lain.

Sang Pencerah Muslim

“Ekonomi yang tidak merata juga menjadi penyebab radikalisme,” tandasnya. 

Sehingga, pemahaman yang dangkal soal keagamaan jangan hanya dianggap soal sempitnya pengetahuan soal Al-Qur’an dan sunnah saja. 

“Tapi pemerintah harus memberikan ruang yang sama khususnya soal perekonomian sehingga radikalisme tidak semakin meluas,” tutur Fathan. 

Selain Fathan, kegiatan bertajuk “Membendung Radikalisme dan Terorisme” itu juga dihadiri Khoirul Anam, Senior Officer Media and Campaign Wahid Foundation. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi) 

Sang Pencerah Muslim





 

Dari Nu Online: nu.or.id

Sang Pencerah Muslim Olahraga Sang Pencerah Muslim

Minggu, 18 Maret 2018

Potret Keluarga Demokratis

Oleh M. Husnaini*

Judul Buku: Sama Tapi Berbeda (Potret Keluarga Besar KH A Wahid Hasyim)

Penulis: Ali Yahya

Potret Keluarga Demokratis (Sumber Gambar : Nu Online)
Potret Keluarga Demokratis (Sumber Gambar : Nu Online)

Potret Keluarga Demokratis

Penerbit: Yayasan KH A Wahid Hasyim Jombang

Cetakan: I, Mei 2007

Tebal: xxxviii + 411 halaman


Sang Pencerah Muslim

Siapa yang tak kenal KH A Wahid Hasyim. Hampir setiap orang tahu dan mengenalnya. Dia adalah putra pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy’ari. Perjalanan hidupnya singkat, karena Allah telah memanggilnya ketika usianya belum lagi genap 39 tahun. Meski di usianya yang relatif muda, ia telah menjadi figur penting dan memiliki pengaruh yang luar biasa di berbagai kalangan. Kiprahnya sungguh “mencengangkan”.

Menariknya, enam putra-putri mantan Menteri Agama di era Presiden Soekarno ini memiliki sifat, profesi, dan politik yang berbeda. Semua itu, tentu saja tak terlepas dari sikap sang ayah yang selalu menanamkan ruh demokrasi dalam lingkungan keluarga. Setiap perbedaan yang ada tidak pernah menjadi momok yang mematikan. Namun justru menghasilkan variasi yang unik dalam keluarga yang penuh warna ini.

“Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama”. Salah seorang pendiri negara Republik Indonesia ini meninggalkan lima putra-putri—yang ketika itu masih kecil-kecil—dan jabang bayi yang masih di dalam kandungan ibunya. Dia adalah Solichah Wahid Hasyim.

Sang Pencerah Muslim

Putra-putri KH A Wahid Hasyim kemudian tumbuh dan berkembang menjadi tokoh dan panutan pada waktu, tempat, dan lingkungan yang berbeda-beda. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah salah satu mantan presiden RI yang ke-4. Sosoknya penuh kontrovesi. Aisyah Hamid Baidlowi menjadi politisi Partai Golkar, Salahuddin Wahid (Gus Solah) penjelajah lintas disiplin ilmu, Dr Umar Wahid seorang profesional murni, Lily Chodidjah Wahid pembangkang yang taat, serta Hasyim Wahid (Gus Im) dikenal sebagai pemberontak yang unik. Sedangkan dari generasi cucu, setidaknya telah muncul dua nama. Mereka adalah Yenny Wahid (putri Gus Dur) dan Ipang Wahid (putra Gus Solah).

Potret keluarga besar KH A Wahid Hasyim ini diuraikan secara gamblang dalam buku ini. “Sama Tapi Berbeda” karya Ali Yahya, alumnus Psikologi Universitas Indonesia ini mengupas lebih mendalam sisi-sisi lain keluarga besar KH A Wahid Hasyim mulai A sampai Z. Gaya bahasanya pun renyah, lugas dan mudah dicerna. Ahmad Syafi’i Ma’arif (mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah)—dalam pengantarnya—mengatakan, gaya penulisan buku ini adalah tuturan yang mengalir.

Meski demikian, Ali Yahya tidak larut dalam nuansa kekagumannya terhadap sang tokoh. Meski kekagumannya terhadap keluarga ini sungguh luar biasa, namun dirinya tetap berusaha obyektif dalam memotret keluarga besar KH A Wahid Hasyim yang cukup fenomenal, tidak hanya di kalangan NU, tetapi juga di lingkungan masyarakat umum di seluruh Indonesia.

KH A Wahid Hasyim dan ayahnya, KH Hasyim Asy’ari adalah dua tokoh bangsa yang sering jadi perbincangan berbagai kalangan dalam berbagai kepentingan, terutama untuk riset mengenai masalah-masalah ke-Islam-an dan ke-Indonesia-an.

Dalam konteks ini, apa yang telah diwariskan KH A Wahid Hasyim adalah mencegah timbulnya penafsiran-penafsiran keagamaan yang dapat memicu radikalisme dan konflik kekerasan. Aspek pluralisme dan toleransi yang terbingkai dalam gagasan demokratisasi ini kiranya yang menjadi landasan perjuangan sang putra, KH Abdurrahman Wahid. Adanya berbagai macam golongan dan kelompok; besar dan kecil, berbeda suku, ras, agama, keyakinan, kelompok kepentingan serta pengelompokan dengan dasar lainnya, berhak untuk dipertimbangkan aspirasinya dalam mengambil keputusan politik.

Sikap inilah yang menjadi ciri khas Gus Dur. Implikasi dari komitmen terhadap asas pluralisme dan kesetaraan ini adalah penolakannya terhadap ide pembentukan negara Islam sebagai tujuan politik umat Islam di Indonesia. Menurutnya, Islam harus difungsikan sebagai pandangan hidup yang mengutamakan kesejahteran masyarakat, apa pun corak, ragam, dan bentuk masyarakat tersebut.

Tak ada yang membantah, memang, di antara putra-putri KH A Wahid Hasyim yang paling menonjol adalah Gus Dur. Sekitar dua dekade terakhir, dia adalah tokoh NU—bahkan Islam secara umum—yang paling banyak menyita perhatian berbagai kalangan. Ketokohannya pun banyak mendapat sorotan. Mulai pengamat nasional hingga internasional.

Ternyata popularitas generasi ini tak hanya diwakili Gus Dur seorang. Pelan namun pasti, sosok Salahuddin Wahid merangkak naik ke permukaan. Tokoh ini mulai mendapat perhatian publik sejak mendapat amanat menjadi salah seorang Ketua PBNU tahun 1999. Ia makin ‘naik daun’ ketika dipercaya sebagai anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) sekaligus Wakil Ketua komisi ini. Dan puncaknya, pada pemilu 2004, ia tampil sebagai calon wakil presiden mendampingi Wiranto. Popularitasnya pun semakin berkibar. Jika sebelumnya orang lebih mengenalnya sebagai adik Gus Dur, kini ia menjadi Gus Solah sebagai pribadi, lepas dari bayang-bayang siapa pun, termasuk sang kakak.

Di luar itu, kita juga mengenal Aisyah Hamid Baidlowi sebagai anak KH A Wahid Hasyim yang aktif di percaturan politik nasional. Hingga kini, ia telah tiga periode menjadi anggota DPR. Uniknya, ia lebih suka bernaung di bawah “pohon beringin” ketimbang masuk ke “kandang-kandang sendiri”. Bagi sebagian orang, fakta ini cukup mengherankan. Tetapi, bagi mereka yang mengenal serta cukup tahu bagaimana kemandirian dan demokratisasi yang sejak lama terbangun di lingkungan keluarga, kenyataan ini tidaklah mengejutkan.

Di samping ketiganya, putra-putri KH A Wahid Hasyim yang lain pun cukup dikenal di komunitasnya masing-masing dengan aktifitas dan independensinya sendiri-sendiri. Umar Wahid misalnya, dia adalah dokter spesialis paru yang sempat dikenal publik ketika menjadi Ketua Tim Dokter Kepresidenan di era Gus Dur. Selain itu, dia juga menjadi anggota DPR RI. Dua saudara yang lain, Lily Chodidjah Wahid dan Hasyim Wahid, meski belum teralu dikenal, namun namanya tidak asing lagi di kalangan-kalangan tertentu.

Mengamati peri kehidupan anak-anak dan cucu-cucu KH A Wahid Hasyim dalam buku ini, sungguh akan kita dapatkan keunikan tersendiri. Setidaknya terlihat sejauh mana kesamaan dan perbedaan di antara mereka masing-masing. Dari sini juga kita dapat mengamati betapa peran orangtua sangat menentukan arah perjalanan sang anak. Dalam hal ini adalah penanaman nuansa demokratis sejak dalam keluarga.

Dalam banyak hal, anggota keluarga KH A Wahid Hasyim memang memiliki kesamaan satu sama lain. Tetapi perbedaan di antara mereka—baik antar maupun inter generasi—pun ternyata tidak sedikit. Hal inilah yang mungkin belum banyak diketahui orang. Semua itu membentuk ritme irama tersendiri dalam keluarga. Mereka memang sama tapi berbeda.

*Peresensi adalah Penikmat Buku, Kontributor Jaringan Islam Kultural

Dari Nu Online: nu.or.id

Sang Pencerah Muslim Aswaja, Kyai, Ahlussunnah Sang Pencerah Muslim

Selasa, 13 Maret 2018

Di Forum ini, Ketum IPPNU Sarankan Dunia Islam Tiru Indonesia

Istanbul, Sang Pencerah Muslim. Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Farida Farichah menyampaikan gagasan tentang peran perempuan di Indonesia pada forum 2nd General Assembly Islamic Conference Youth, sebuah forum yang berafiliasi dengan Organization Islamic Cooperation (OIC).

Di Forum ini, Ketum IPPNU Sarankan Dunia Islam Tiru Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Forum ini, Ketum IPPNU Sarankan Dunia Islam Tiru Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Forum ini, Ketum IPPNU Sarankan Dunia Islam Tiru Indonesia

Pada forum yang berlangsung di Tower World Trade Center, Istanbul, Turki pada 9-11 Oktober tersebut, Farida menyampaikan kepada para delegasi bahwa Indonesia layak menjadi percontohan dunia Islam dalam memajukan peran perempuan.

Menurut dia, Indonesia memang bukan negara Islam, tapi jumlah umatnya terbesar. Salah satu karakteristik Islam Indonesia sangat menghargai hak-hak perempuan dan juga menjamin kebebasannya untuk berperan di ranah publik.

Sang Pencerah Muslim

Indonesia, lanjut dia, pernah memiliki presiden perempuan. Semua ranah publik terbuka peluang untuk perempuan. Bahkan untuk ranah politik ada afirmasi 30% kuota perempuan dalam rangka medorong kaum perempuan untuk terjun di politik.

“Saya kira ini satu-satunya di dunia, dan saya menyarankan negara-negara Islam mencontoh Indonesia agar tidak terjadi ketimpangan sosial dan ekonomi antara laki-laki dan perempuan,” katanya pada forum bertema Preserving Velues Rendering Future Beter tersebut, melalui siaran pers yang diterima Sang Pencerah Muslim pada Sabtu (11/10).

Sang Pencerah Muslim

Farida berpendapat bagaimana mungkin suatu negara dapat mewujudkan kehidupan yang adil dan sejahtera kalau setengah dari rakyatnya tidak dilibatkan dalam membangun negara tersebut.

Selain Farida, Indonesia mengirim delegasi dari berbagai organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan. Hadir juga perwakilan 48 negara dari 57 negara yang diundang. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Sang Pencerah Muslim AlaNu, Halaqoh Sang Pencerah Muslim

Senin, 12 Maret 2018

GP Ansor Purworejo Unjuk Rasa Tolak ISIS

Purworejo, Sang Pencerah Muslim. Gerakan Islam radikal Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) yang meresahkan masyarakat di berbagai belahan dunia menuai penolakan dari Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

GP Ansor Purworejo Unjuk Rasa Tolak ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Purworejo Unjuk Rasa Tolak ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Purworejo Unjuk Rasa Tolak ISIS

Sekitarseratusan anggota organisasi kepemudaan tersebut melakukan aksi long march dan orasi di depan Mapolres Purworejo, Kamis (2/4). Sepanjang perjalanan dari halaman gedung PCNU di Jalan Kepatihan hingga Mapolres, mereka berorasi sambil membawa poster berisi kecaman terhadap ISIS. Aksi tersebut merupakan anjuran dari Pengurus Pusat dan Pengurus Wilayah GP Ansor Jawa Tengah serta petunjuk dari para alim ulama.

Pada kesempatan tersebut sang orator yang juga Ketua GP AnsorPurworejo, Muhammad Haikal mengajak kepada masyarakat untukwaspada terhadap gerakan radikalisme dan ISIS di Purworejo.

Sang Pencerah Muslim

"Ansor tidak ingin masyarakat Purworejo resah dengan adanya gerakan ISIS dan radikalisme. Untuk itu kami meminta Bupati, Polri dan TNI serta mengajak masyarakat untuk sama-sama menyatakan sikap menolak ISIS di Purworejo," ucap Haikal, usai melakukan orasi di depanMapolres Purworejo.

Sang Pencerah Muslim

Haikal mengatakan, sebagai tindak lanjut aksi tersebut GP Ansor dan Banser siap mengawal aparat keamanan dalam menjalankan tugas pengamanan di Kabpaten Purworejo. Pihaknya juga akan melakukan sosialisasi di semua lapisan kepengurusan Ansor dan Banser dari tingkat PAC sampai ranting. Sosialisasi juga akan dilakukan di lingkungan masyarakat.

"Kami siap menggerakkan masa jika ditemukan ancaman ISIS di Purworejo. Sosialisasi akan terus kami lakukan untuk mencegah adanya ancamaradikalisme serta ISIS di Purworejo," ucapnya.

Dalam kesempatan yang sama Kapolres Purworejo AKBP Roma Hutajulu mengatakan, pihaknya mengharap dukungan serta sinergitas GP Ansor dan Banser untuk bersama-sama menjaga Purworejo dari ancaman radikalisme dan ISIS. Selain itu, pihaknya juga mengharapkan kerja sama dari seluruh lapisan masyarakat untuk sigap jika menjumpai adanya hal yang mencurigakan.

"Aparat kepolisian selalu siap mengantisipasi ancaman keamanan di Purworejo. Meski demikian dukungan dari semua pihak sangat kamiharapkan untuk membantu kinerja kami. Termasuk dalam menangkal radikalisme dan ISIS," ucapnya. (Lukman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Sang Pencerah Muslim Ubudiyah, Nusantara, Makam Sang Pencerah Muslim

Wabup Lombok Timur: Lestarikan Peringatan Isra’ Mi’raj

Lombok Timur, Sang Pencerah Muslim. Peringatan isra’ dan mi’raj Nabi Muhammad SAW yang berlangsung di Pondok Pesantren Sirojul Ulum Lombok Timur, Nusa Tenggara Timur, mendapat sambutan positif dari pemerintah kabupaten setempat. Wakil Bupati Lombok Timur H Khaerul Warisin mendorong warga terus melestarikan kegiatan serupa.

Khaerul menyampaikan hal tersebut dalam acara Rajaban 1435 H di Pondok Pesantren Sirojul Ulum yang berada di Desa Mamben Daya, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur, Kamis (29/5). “Kegiatan semacam ini merupakan tradisi keislaman yang harus dipertahankan sebagai ciri dari Islam Nusantara,” ujarnya.

Wabup Lombok Timur: Lestarikan Peringatan Isra’ Mi’raj (Sumber Gambar : Nu Online)
Wabup Lombok Timur: Lestarikan Peringatan Isra’ Mi’raj (Sumber Gambar : Nu Online)

Wabup Lombok Timur: Lestarikan Peringatan Isra’ Mi’raj

Dalam kesempatan itu, ia juga mengaku memiliki perhatian besar terhadap pondok pesantren. Untuk tahun ini, katanya, telah dianggarkan sebesar Rp 11 miliar bagi pengembangan pondok pesantren se-Lombok Timur.

Sang Pencerah Muslim

H Ulumudin Akmal, salah seorang pengasuh Pesantren Sirojul Ulum menjelaskan, peringatan isra’ dan mi’raj menjadi agenda tahunan di Pesantren Sirojul Ulum setiap bulan Rajab. Kali ini kegiatan tersebut digelar bersamaan dengan peringatan hari lahir Pesantren Sirojul Ulum yang ke-11 sekaligus haul sesepuh para pendiri Pesantren, almarhum Tuan Guru H Zainuddin Arsyad dan almarhum Tuan Guru Abdul Muin.

Selain Wakil Bupati Lombok Timur, hadir pula pada majelis ini Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Lombok Timur H Imron Fauzi Haetami, serta para sesepuh NU Lombok Timur. Dalam kesempatan itu juga terdapat prosesi penyerahan Surat Keputusan Pengurus Besar NU nomor 353/A.II.04.d/04/2014 tentang Pengesahan PCNU Kabupaten Lombok Timur Masa Khidmah 2014-2019. (Darma Santosa/Mahbib)

Sang Pencerah Muslim

Dari Nu Online: nu.or.id

Sang Pencerah Muslim Hadits Sang Pencerah Muslim

PBNU Siapkan 100 Pesantren Tampung Eks Gafatar

Problem sosial menyusul pemulangan ribuan eks kelompok Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) masih terus menyita konsentrasi pemerintah. Ketiadaan harta benda, kehilangan lahan pekerjaan, ditambah dengan sejumlah kasus penolakan dari pihak keluarga, membuat beban penanganan ribuan eks pengikut aliran ekslusif ini makin kompleks.

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melihat bahwa bagaimanapun akar persoalannya, penyelesaian masalah kemanusiaan tetap harus didahulukan. Tugas Pemerintah Daerah bukan hanya selesai di fase pemulangan dan penampungan sementara. Sebagai representasi negara, Pemerintah Daerah juga harus dapat menjamin kelanjutan kehidupan sosial-ekonomi mereka bisa kembali berjalan seperti sedia kala.

PBNU Siapkan 100 Pesantren Tampung Eks Gafatar (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Siapkan 100 Pesantren Tampung Eks Gafatar (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Siapkan 100 Pesantren Tampung Eks Gafatar

Terkait hal ini, PBNU telah berkoordinasi dengan para pimpinan Pondok Pesantren di bawah naungan Rabithah Ma’ahid Al-Islamiyah (RMI) NU untuk menyiagakan 100 Asrama Pondok Pesantren yang tersebar di beberapa daerah lokasi pemulangan eks gafatar. Pondok-Pondok Pesantren ini disiapkan dalam upaya membantu mulai dari menampung, memulihkan, hingga meluruskan paham keagamaan eks anggota Gafatar. Melalui Lembaga Pengembangan Pertanian NU (LPPNU), NU juga siap mendampingi, apabila eks kelompok Gafatar yang sebelumnya berprofesi sebagai petani yang ingin kembali bercocok tanam.

Menyikapi Insiden Pembakaran Pemukiman Gafatar

Sang Pencerah Muslim

Sebagaimana penjelasan Polri, kelompok Gafatar merupakan perwajahan baru dari Komunitas Millah Abraham, sedangkan Komunitas Millah Abraham adalah reinkarnasi dari Al-Qiyadah Al-Islamiyah bentukan Ahmad Musadeq yang pernah mendeklarasikan diri sebagai nabi pada 2006.

Sang Pencerah Muslim

Merujuk pada hasil investigasi Polri dan bukti-bukti kesesatan Ahmad Musadeq, secara paham dan ajaran, ketiga nama kelompok yang sebenarnya sama ini jelas menyebarkan aliran yang eksklusif, ekstrem, dan telah terbukti menyimpang dari ajaran Islam. Ajarannya tentang qital, fath, dan khilafah, jelas bertentangan dengan prinsip Islam rahmatan lil’alamin dan falsafah Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia.

Terlepas dari pro-kontra mengenai insiden pengusiran anggota Gafatar oleh warga di Mempawah, Kalaimantan Barat, PBNU tetap menegaskan bahwa organisasi Gafatar dengan segala aktivitasnya harus dibubarkan. Negara tidak boleh lagi memberikan tempat bagi mereka-mereka yang anti kebhinnekaan, yang nyata-nyata merongrong NKRI dari dalam. Oleh karena itu PBNU mendesak agar aparat penegak hukum tegas dalam menindak para pimpinan dan penggerak Gafatar.

Aparat penegak hukum, dalam hal ini juga harus tegas pada pelaku perusakan dan pembakaran kampung anggota Gafatar di Mempawah, Kalimantan Barat. Tindakan main hakim sendiri dengan cara mengusir dan membakar juga merupakan tindakan kriminal yang tidak bisa dibenarkan oleh hukum.

Jakarta, 27 Januari 2016

Ketua Umum PBNU? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? Sekjen PBNU

KH Said Aqil Siroj? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? H Helmy Faishal Zaini

Dari Nu Online: nu.or.id

Sang Pencerah Muslim Pahlawan, Cerita, Amalan Sang Pencerah Muslim

Minggu, 11 Maret 2018

Pagelaran Wayang Kulit Tutup Peringatan Harlah GP Ansor

Solo, Sang Pencerah Muslim. Peringatan puncak harlah ke-78 Gerakan Pemuda (GP) Ansor ditutup dengan pagelaran wayang kulit di stadion Manahan jalan Adi Sucipto, Surakarta, Jawa Tengah, Rabu (18) malam. Pementasan wayang kulit ini adalah acara terakhir dari sejumlah rangkaian peringatan harlah GP. Ansor seperti Apel Banser, Anugerah Wirasantri Mandiri, Workshop Lembaga Keuangan Mikro Syariah, Konferensi Internasional IIFIS.

Pementasan wayang kulit ini didalangi oleh dalang kondang, Ki Enthus Susmono. Pementasan wayang kulit Rabu malam, mengambil lakon ‘Antareja’. Lakon tersebut dimulai pada pukul 22.44 seusai zikiran dan selawatan yang dipimpin oleh Habib Syekh Assegaf.

Pagelaran Wayang Kulit Tutup Peringatan Harlah GP Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagelaran Wayang Kulit Tutup Peringatan Harlah GP Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagelaran Wayang Kulit Tutup Peringatan Harlah GP Ansor

Pertunjukan wayang tersebut adalah bentuk apresiasi GP Ansor terhadap seni budaya tradisional. Pagelaran lakon wayang bagi GP Ansor bisa menjadi wadah penyampaian nilai yang mendidik sekaligus hiburan bagi para penonton.

Sang Pencerah Muslim

Sedikitnya dua ribu lima ratus penonton memadati halaman parker stadion Manahan. Mereka datang dari dalam kota Surakarta dan kabupaten sekitar. Meski sempat diguyur tetesan hujan, semangat para penonton tidak berkuran untuk mengerumuni panggung dari delapan arah mata angin.

Sang Pencerah Muslim

Sebelum lakon ‘Antareja’ dimulai, Nusron Wahid, Ketua Umum PP GP Ansor, Dahlan Iskan, Menteri BUMN, dan perwakilan Kemenkominfo member sambutan singkat. Sesaat sebelum mulai, Ki Enthus meminta grup gamelannya untuk memainkan ‘Mars Ansor’. Nusron Wahid menyanyikan Mars Ansor dengan iringan gamelan.

“Pementasan wayang ini ditujukan GP Ansor agar masyarakat mencintai kesenian di Indonesia. Bentuk kecintaan terhadap kesenian tradisi adalah dengan memberikan panggung bagi para seniman,” kata Nusron dalam sambutannya di hadapan dua ribu lima ratus penonton yang sebagian sudah duduk  menggelar Koran.

Mbok ya kita ini mencintai Rasulullah dan kiai. Belajar fiqih ojo dilali ,” salah satu ungkapan Ki Enthus saat mendalang lakon ‘Antareja’, Rabu malam.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis    : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Sang Pencerah Muslim Pahlawan, Nasional Sang Pencerah Muslim

Ketua PP IPPNU Kunjungi Komisariat Unnes

Semarang, Sang Pencerah Muslim. Farida Farichah selaku Ketua PP IPPNU melakukan kunjungan ke IPNU-IPPNU Komisariat Unnes pada 12 Januari 2013. Kunjungan diisi dengan sharing dan makan bersama dalam suasana yang santai. 

Ketua PP IPPNU Kunjungi Komisariat Unnes (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PP IPPNU Kunjungi Komisariat Unnes (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PP IPPNU Kunjungi Komisariat Unnes

Kunjungan tersebut merupakan agenda yang luar biasa bagi rekan-rekanita IPNU-IPPNU Komisariat Unnes. Mengingat bahwa Farida dulu adalah alumni dari IPPNU komisariat Unnes.

Dalam kunjungan tersebut hadir beberapa alumni antara lain Nur Syafaah (ketua IPPNU Unnes 2006), Maghfiroh (Ketua IPPNU Unnes 2008), Dian (ketua IPPNU Unnes 2012), Dina (Wakil Ketua IPPNU Unnes 2012) dan Irmawan (ketua IPNU Unnes 2012). 

Sang Pencerah Muslim

Acara tersebut dihadiri oleh pengurus IPNU-IPPNU Unnes 2013 Aan (Ketua IPNU), Ruqy (ketua IPPNU) dan pengurus yang lain (Mailiz, Ana,  Afifah, Singgih dan Zaqi). Dalam forum tersebut, “srikandi-srikandi” IPPNU Unnes saling berbagi pengalaman dan melepas rasa rindu setelah beberapa lama tidak bertemu.

“Ini merupakan sebuah pengalaman yang sangat berharga bisa mendapat pengalaman langsung dari alumni-alumni,” ujar Ruqy.

Sang Pencerah Muslim

Kepengurusan IPNU-IPPNU Komisariat Unnes sangat beruntung bisa didatangi langsung oleh ketua IPPNU, dan berharap dengan kedatangan Farida akan menambah kesemangatan bagi pengurus-pengurus baru.

“Ini memberi semangat bagi kita agar bisa mengikuti jejak alumni kita ini, sekarang tugas kita adalah merapatkan barisan, dengan meningkatkan dan mengaplikasikan Belajar, Berjuang dan Bertaqwa di kepengurusan yang baru di kampus Universitas Negeri Semarang,” ujar Aan.

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Sang Pencerah Muslim Hikmah, News Sang Pencerah Muslim

Sabtu, 10 Maret 2018

NU Probolinggo Minta Pemkot Tertibkan Hiburan di Siang Hari

Probolinggo, Sang Pencerah Muslim - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Probolinggo meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Probolinggo untuk membuat surat edaran (SE). Hal ini dimaksudkan agar pihak pengelola hiburan membatasi layanan pengunjungnya hanya di malam hari.

Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua NU Kota Probolinggo H Ahmad Hudri, Senin (6/6). Menurutnya, surat edaran itu berisi tentang pengaturan warung, restoran dan sejenisnya untuk tidak membuka pelayanan di siang hari. “Kalau terpaksa maka harus ditutup dengan tabir agar tidak terlalu mencolok,” katanya.

NU Probolinggo Minta Pemkot Tertibkan Hiburan di Siang Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Probolinggo Minta Pemkot Tertibkan Hiburan di Siang Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Probolinggo Minta Pemkot Tertibkan Hiburan di Siang Hari

Selain itu jelas Hudri, selama Ramadhan Pemkot harus menutup rumah hiburan malam, karaoke keluarga dan sejenisnya yang dapat mengganggu pelaksanaan ibadah puasa. “Bagi yang melanggar mohon untuk dicabut izinnya dan ditutup secara permanen,” jelasnya.

Sang Pencerah Muslim

Penataan dan pengaturan para penjual takjil di pinggir jalan agar tidak mengganggu pengguna jalan. Pelarangan tempat bermain anak, odong-odong dan yang sejenis dengan itu di sekitar Masjid Agung Raudlatul Jannah pada malam hari terutama di saat pelaksanaan shalat tarawih dan tadarus.

“Yang paling penting lagi harus ada penataan pedagang dan mengantisipasi seluruh taman dan ruang terbuka hijau yang dapat dijadikan tempat mesum (asusila) dan rentan adanya tindak kejahatan,” tegasnya.

Sang Pencerah Muslim

Menurut Hudri, surat edaran ini penting dikeluarkan oleh Pemkot Probolinggo untuk memberikan rasa nyaman dan aman kepada masyarakat muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa. Selain itu juga untuk menambah kekhusyu’an menunaikan ibadah puasa.

“Mudah-mudahan dengan adanya surat edaran ini nantinya masyarakat bisa menjalankan ibadah puasa dan ibadah yang lain dengan tenang dan tidak ada gangguan apapun yang dapat mengurangi pahala puasanya,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Sang Pencerah Muslim Nusantara, Humor Islam, Nahdlatul Ulama Sang Pencerah Muslim

PCNU Nias Selatan Khitankan Puluhan Anak Yatim

Nias Selatan, Sang Pencerah Muslim - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Nias Selatan mengadakan aksi sosial dalam bentuk khitanan massal bagi anak-anak yatim dan fakir miskin di gedung Madrasah Ibtidaiyah Negeri Telukdalam, Nias Selatan, Ahad (25/12). Pihak PCNU Nias Selatan merekrut 40 anak yatim untuk dikhitan.

Aksi sosial ini diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan shalawat badar. Acara ini dilanjutkan dengan penyampaian taushiyah oleh H Dedi Iswandy yang ditutup dengan do’a oleh Rais Syuriyah PCNU Nias Selatan Ahmad Yunan Waruwu.

PCNU Nias Selatan Khitankan Puluhan Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Nias Selatan Khitankan Puluhan Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Nias Selatan Khitankan Puluhan Anak Yatim

Ketua Panitia Pelaksana Sulaiman Waruwu melaporkan, donasi yang terkumpul dari kegiatan khitanan massal ini sebesar Rp. 11.510.000 yang berasal dari pengurus harian NU Nias Selatan, beberapa instansi, dan para dermawan. Bantuan juga datang dari rumah makan yang menyediakan makanan, para tenaga medis yang mengurangi biaya khitan sehingga harga terjangkau.

Sang Pencerah Muslim

“Ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu suksesnya acara khitan massal ini. Semoga Allah membalasnya,” kata Sulaiman.

Aksi sosial ini dihadiri oleh pengurus harian PCNU Nias Selatan, unsur parpol, MUI Nias Selatan, perwakilan Muhammadiyah Nias Selatan, Tokoh Masyarakat Telukdalam, dan tokoh-tokoh lain.

Ketua PCNU Nias Selatan Amsir Siregar mengatakan, aksi sosial ini adalah sebagian dari program kerja PCNU Nias Selatan. Sejak Konfercab II PCNU Nias Selatan sudah beberapa kali melaksanakan kegiatan termasuk khataman Al-Qur’an yang dipusatkan di Masjid Agung Ar-Rahman.

Sang Pencerah Muslim

“Pelaksanaan khitanan massal ini salah satu upaya yang direncanakan untuk membantu sebagian para orang tua dan anak-anak yatim-piatu untuk melaksanakan khitanan. Kegiatan ini takkan terselenggara tanpa bantuan pihak lain. Hal ini sesuai prinsip NU at-taawun, yakni tolong-menolong, setia kawan, gotong-royong utamanya dalam kebaikan dan takwa,” kata Amsir.

Usai acara pembukaan jam 10.00 WIB, khitanan massal segera dilangsungkan oleh para tenaga medis di bawah Koordinator Arianti Waruwu. (Red Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Sang Pencerah Muslim Warta Sang Pencerah Muslim

Jumat, 09 Maret 2018

PCINU Malaysia Buka Sekolah untuk Anak Indonesia

Kuala Lumpur, Sang Pencerah Muslim. Bersamaan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW kemarin, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Malaysia membuka Lembaga Pendidikan Ma’arif. Lembaga Pendidikan ini rencananya akan dimulai pada Februari ini.

Ketua Tanfidziyah PCINU Malaysia Marhadi Marzuki (40) Ahad (25/1) kemarin menuturkan, madrasah ini nanti diperuntukkan bagi seluruh umat Islam yang tinggal di negeri Jiran.

PCINU Malaysia Buka Sekolah untuk Anak Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Malaysia Buka Sekolah untuk Anak Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Malaysia Buka Sekolah untuk Anak Indonesia

“Namun, secara khusus kita mendedikasikannya untuk warga Nahdliyin dari Indonesia,” tambah Marhadi yang kini sedang menyelesaikan PhD di Universitas Malaya ini.

Sang Pencerah Muslim

Lembaga Pendidikan yang rencananya ditempatkan di Gombak ini selanjutnya akan berdiri independen. “Jelas, bahwa kita akan mengikuti kurikulum Ma’arif, sebagaimana yang juga diajarkan di pesanten-pesantren Indonesia,” tegasnya.

Sang Pencerah Muslim

Meski demikian, lanjutnya, akan ada modifikasi dalam beberapa hal. “Akan kita sesuaikan juga dengan kurikulum yang ada di Malaysia.”

Tenaga pengajar madrasah ini adalah para guru dari Indonesia yang tinggal di Malaysia. “Sementara ini kita anggap cukup (guru yang ada di Malaysia). Nanti kalau kita anggap perlu mengambil dari Indonesia maka kita akan ambil dari sana,” jelasnya.

Menurut Marhadi, salah satu tujuan didirikannya lembaga ini adalah untuk mengenalkan NU, Islam ahlussunnah wal Jama’ah, yang arif terhadap lokalitas, sekaligus menjadi rahmatan lil-‘alamin.

Peresmian pembukaan madrasah tersebut kemarin langsung dihadiri oleh Ketua Pengurus Pusat LP Ma’arif, HZ Arifin Junaidi. (Abdul Aziz/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Sang Pencerah Muslim Kajian Sunnah, Berita, Pondok Pesantren Sang Pencerah Muslim

Kamis, 08 Maret 2018

Evaluasi Diri dengan Model Kinerja Mesin

Oleh Rulli Rachman



“Anda tidak bisa mengendalikan sesuatu yang tidak bisa Anda ukur”. Kata-kata tersebut saya kutip dari perkataan dosen saya waktu kuliah, Dr. Zainal Abidin. Filosofi utama dari kalimat tersebut adalah bahwa pengukuran itu penting. Konsep pengukuran ini saya kaitkan dengan pentingnya mengukur diri, mengevaluasi diri, sudah sejauh manakah keimanan kita. Imam Al Ghazali menuturkan ada 3 (tiga) jenis iman yakni iman awami (iman-nya orang awam), Iman mutakalimin dan Iman yang hakiki. Apakah keimanan kita masih dalam taraf sekedar percaya atau sudah berkembang dalam implementasi kehidupan sehari-hari? Termasuk kategori yang manakah iman kita berada? 

Evaluasi diri berarti melakukan pengukuran seberapa banyak amal yang kita perbuat. Lho kenapa kok jadi berhitung soal amal kita? Bukankah beramal itu harus ikhlas, tanpa pamrih dan tidak berhitung? Betul. Perhitungan pahala dan ganjaran itu tetap merupakan hak prerogratif Allah. Penekanan pengukuran amal ini lebih kepada optimasi, seberapa efisien kita dalam beribadah dan beramal. Untuk mengetahui seberapa efisien suatu proses, dikenal istilah efisiensi. Efisiensi biasa didefinisikan sebagai perbandingan langsung antara output dan input. Dalam ilmu mesin, efisiensi adalah perbandingan antara daya masuk dan daya keluaran. Ada tiga jenis mesin konversi energi yang akan saya gunakan sebagai pemodelan di sini dan kaitannya dengan evaluasi diri. 

Evaluasi Diri dengan Model Kinerja Mesin (Sumber Gambar : Nu Online)
Evaluasi Diri dengan Model Kinerja Mesin (Sumber Gambar : Nu Online)

Evaluasi Diri dengan Model Kinerja Mesin

Model yang pertama adalah boiler atau biasa disebut ketel uap. Efisiensi boiler dihitung dari berapa jumlah energi dari bahan bakar yang dikonversikan menjadi uap. Bahan bakar boiler bisa berupa batu bara atau HSD (high speed diesel). Seandainya daya masuk itu 100 persen maka daya output biasanya tidak penuh seratus persen lagi. Mungkin hanya berkisar 60 sampai 70 persen. Ke mana sisanya 30–40 persen lagi? Itu yang disebut rugi-rugi atau lossess. Losses atau kerugian ini salah satunya dikonversi menjadi asap (gas) buang.

Dari situ, filosofi sederhana dalam mengoperasikan mesin adalah memperoleh daya output semaksimal mungkin dengan meminimalisasi rugi-rugi. Rugi-rugi ini tidak mungkin dihilangkan sama sekali.

Berkaca dari proses konversi energi pada boiler tersebut, kita bisa menganalogikan proses ibadah kita sehari-hari. Apakah sudah efisien ibadah dan amalan kita? Apabila kita mengerjakan shalat tapi tetap berbuat maksiat maka terbentuk losses atau rugi-rugi tadi. Apabila kita sedang berpuasa tapi tetap bergunjing, membicarakan aib orang lain maka terbentuk juga rugi-rugi tadi. Apabila kita bersedekah dalam nominal yang tidak sedikit tapi diiringi dengan rasa pamrih, ingin dipuji sebagai orang yang dermawan maka terbentuk pula rugi-rugi tadi. Semakin banyak rugi-rugi yang terjadi maka semakin tidak efisien ibadah kita. 

Sang Pencerah Muslim

Padahal yang kita tuju adalah 100% ibadah murni karena Allah SWT. Bayangkan apabila kita merasa sudah semaksimal mungkin dalam beribadah tapi nyatanya yang diterima hanya sekitar 20-30% saja, selebihnya menguap karena faktor riya’, hasud, dengki dan penyakit hati lainnya. Wallahualam.

Sang Pencerah Muslim

Model yang kedua adalah jenis mesin diesel. Kinerja mesin dihitung dari spesific fuel consumption (SFC). SFC adalah  perbandingan antara bahan bakar yang dikonsumsi mesin dan daya output yang dihasilkan. Secara rumus, SFC ini kebalikan dari efisiensi. Semakin besar angka SFC maka semakin tidak efisien mesin diesel tersebut. Bahan bakar yang kita konsumsi ibaratnya adalah ilmu pengetahuan yang kita peroleh. Semakin banyak ilmu yang kita dapat, apabila proses penyerapannya terlaksana dengan baik niscaya daya output pun akan maksimal. Tapi apakah yang terjadi sebaliknya? Kita mendapat ilmu yang begitu melimpah, rajin menghadiri majelis taklim, banyak membaca buku dan sebagainya, tapi sangat sedikit yang kita amalkan. Sungguh sangat disayangkan.

Lalu model kinerja mesin apa yang cocok untuk diterapkan? Kita bisa mengambil contoh mesin pompa. Secara teoritik, Umur pompa yang dioperasikan pada 50% kondisi operasi ideal akan memiliki persentase maksimal umur lebih tinggi dibandingkan dengan yang dioperasikan pada kondisi 30% saja. Dengan kata lain umur pompa lebih panjang apabila pompa bekerja optimal, tidak setengah-setengah.

Seperti layaknya pompa, seharusnya kita bisa beribadah dan beramal semaksimal mungkin dengan menggunakan apa-apa saja yang sudah disediakan oleh kita. Kita dikaruniai tubuh yang sehat maka maksimalkan dengan shalat, tidak hanya shalat wajib tapi juga shalat sunnah dan tahajud. Kita dianugerahi harta yang berkecukupan maka segera tunaikan zakat, berangkat umrah dan niatkan berhaji. Kita dianugerahi mata yang jernih maka gunakanlah untuk melihat hal-hal yang baik. Kita dianugerahkan sepasang tangan dan sepasang kaki, maka gunakanlah untuk melangkah ke tempat-tempat yang diridhai-Nya dan gunakan tangan untuk menuliskan kebenaran. Sejatinya, segala apa yang melekat pada tubuh kita dan juga apa saja yang kita dapatkan itu wajib disyukuri. Dan mengoptimalkan pemberian-pemberian Allah tadi adalah salah satu dari implementasi bersyukur. Wallahualam, semoga kita diberi kemudahan. 

Penulis adalah penggemar kopi, bola dan pemerhati dunia literasi 

Dari Nu Online: nu.or.id

Sang Pencerah Muslim Warta, RMI NU Sang Pencerah Muslim

MI Darul Faizin Assalafiyah Tradisikan Ziarah ke Makam Leluhur

Jombang, Sang Pencerah Muslim

Ratusan siswa dan siswi Madrasah Ibtidaiyah Darul Faizin Assalafiyah tampak berkumpul di makam Mbah Guru Hasan Sanusi. Baik lokasi madrasah maupun pesarean berada di Desa Catakgayam,  Kecamatan Mojowarno, Jombang, Jawa Timur.



MI Darul Faizin Assalafiyah Tradisikan Ziarah ke Makam Leluhur (Sumber Gambar : Nu Online)
MI Darul Faizin Assalafiyah Tradisikan Ziarah ke Makam Leluhur (Sumber Gambar : Nu Online)

MI Darul Faizin Assalafiyah Tradisikan Ziarah ke Makam Leluhur

Itu merupakan tradisi rutin yang dilakukan peserta didik madrasah ini setiap Kamis Kliwon. Setidaknya ada dua ratus murid yang ikut berziarah ke makam Mbah Guru Sanusi yang juga dikenal sebagai pembuka desa setempat.



Sang Pencerah Muslim

“Beruntung orang tua yang menyekolahkan putra-putrinya di madrasah yang mendidik muridnya untuk mendoakan para pendahulu yang sudah meninggal,” kata Astatik, Kamis (25/1) petang.


 

Salah seorang wali murid MI Darul Faizin Assalafiyah ini mengemukakan bahwa anaknya termasuk yang aktif ziarah ke makam tersebut. “Mbah Guru Hasan Sanusi itu pembuka desa Catakgayam yang dulunya berupa hutan. Beliau juga menantu Mbah Alif yang pesareannya masuk dalam catatan Dinas Pariwisata Jombang sebagai destinasi wisata religi selain Gus Dur,” ungkapnya.

Sang Pencerah Muslim





Memang khusus pada Kamis Kliwon atau menjelang Jumat Legi, ratusan peserta didik di madrasah ini mengikuti aktifitas rutin tersebut. Pada pukul 11.30 Wib, mereka berkumpul dengan dibimbing para guru untuk membacakan tahlil dan kalimat thayyibah.

 

Astatik juga menandaskan bahwa doa anak sebagai teman kala orang tuanya meninggal. “Bukankah teman kita di alam kubur nanti adalah sedekah jariyah, amal shaleh dan doa anak anak shalih dan shalihah?” tandasnya.

Karenanya, tradisi yang diajarkan para ustadz dan ustadzah khususnya di madrasah ini kepada peserta didik sebagai hal positif. “Kami bangga,” pungkasnya. (Ibnu Nawawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Sang Pencerah Muslim Ahlussunnah, Nasional, Halaqoh Sang Pencerah Muslim

Rabu, 07 Maret 2018

Sekretaris Ansor Sumbar Dapat Amanah Rakyat

Padang, Sang Pencerah Muslim. Sekretaris GP Ansor Sumatera Barat Zulhardi Z Latif dilantik sebagai anggota DPRD Kota Padang periode 2014-2019, Rabu (6/8). Zulhardi dilantik bersama anggota DPRD Kota Padang lainnya di aula gedung DPRD Kota Padang.

Sekretaris Ansor Sumbar Dapat Amanah Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekretaris Ansor Sumbar Dapat Amanah Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekretaris Ansor Sumbar Dapat Amanah Rakyat

Menjelang pelantikan, Zulhardi mengatakan kepada Sang Pencerah Muslim, jabatan sebagai wakil rakyat merupakan amanah rakyat yang harus dijalankan. “Alhamdulillah, konstituen saya mengantarkan saya menjadi wakil rakyat,” katanya.

Sebagai kader Ansor, kata Zulhardi, kita akan berupaya menyuarakan aspirasi generasi muda NU di Kota Padang. Ini pertama kader Ansor yang dilantik menjadi anggota DPRD Kota Padang setelah reformasi, katanya.

Sang Pencerah Muslim

Sebelum menjadi Sekretaris GP Ansor Sumbar, ia pernah diamanahkan sebagai Ketua GP Ansor Kota Padang.

Ketua GP Ansor Sumbar Rusli Intan Sati menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya Zulhardi Z Latif. “Meski saya gagal dalam pemilihan legislatif 9 April lalu, pelantikan Zulhardi ini sebagai gantinya. Walaupun daerahnya berbeda, yang penting kader Ansor tetap ada yang di legislatif,” kata Rusli yang pernah menjadi anggota DPRD Solok. (Armaidi Tanjung/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Sang Pencerah Muslim

Sang Pencerah Muslim Kiai, Olahraga Sang Pencerah Muslim

Prof. Aom Karomani: Komunikasi via Medsos Rawan Miskomunikasi

Bandar Lampung, Sang Pencerah Muslim. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, khususnya media sosial, saat ini membuat masyarakat berinteraksi secara mudah. Komunikasi melalui media ini ternyata tidak serta-merta membawa kemanfaatan bagi masyarakat, tapi ada sisi kemudaratannya.

Prof. Aom Karomani: Komunikasi via Medsos Rawan Miskomunikasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Prof. Aom Karomani: Komunikasi via Medsos Rawan Miskomunikasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Prof. Aom Karomani: Komunikasi via Medsos Rawan Miskomunikasi

Menurut Wakil Ketua Tanfidziyyah PWNU Prof. Aom Karomani, komunikasi melalui media sosial sangat rawan terjadi miskomunikasi atau kesalahpahaman. 

"Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya 7 persen dari komunikasi verbal yang berpengaruh terhadap efektivitas sebuah komunikasi.Sekitar 93 persen dipengaruhi oleh komunikasi nonverbal yang meliputi gesture, tatapan mata, dan aspek non erbal lainnya," kata dosen FISIP Universitas Lampung ini, Ahad (7/1).

Ia mengingatkan bahwa komunikasi langsung dengan tatap muka serta melibatkan unsur nonverbal saja bisa masih mampu memunculkan kesalahpahaman. Apalagi komunikasi via media sosial yang dalam aktivitasnya tidak melibatkan gesture, mimik muka, intonasi suara dan unsur nonverbal lainnya.

Sang Pencerah Muslim

Ia menilai di situlah letak kekurangan komunikasi via media sosial dan perlu diperhatikan oleh para pengguna jejaring sosial.

"Keagungan Allah AWT menciptakan mimik muka manusia mampu menunjukkan apa yang ada dalam bathin seseorang apakah berbicara jujur atau bohong. Namun perkembangan teknologi menggeser segalanya," kata Ahli Bidang Komunikasi ini di kediamannya, di Bandarlampung.

Untuk menghindari efek negatif dari munculnya miskomunikasi yang mengarah kepada perpecahan dan pertikaian, ia mengingatkan agar dalam berkomunikasi harus memahami secara utuh maksud dan keinginan dari yang diajak berkomunikasi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memahami unsur nonverbal dan melakukan tabayun secara mendalam. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Sang Pencerah Muslim

Sang Pencerah Muslim Pondok Pesantren, Sholawat Sang Pencerah Muslim

Selasa, 06 Maret 2018

Santri dan Potensi Islam Progresif di Indonesia

Oleh: Ahmad Khoiri*

22 Oktober merupakan momentum euforia kaum pesantren atau yang lumrahnya disebut kaum sarungan. Euforia tersebut termanifestasikan dalam pelbagai kegiatan yang dilakukan pesantren, kirab santri merupakan salah satu di antaranya. Tetapi ada yang lebih penting dari sekadar kegiatan seremonial tersebut, yaitu bahwa sebenarnya santri memiliki potensi untuk menjadi Muslim yang progresif, tidak kaku, lebih-lebih di Indonesia dengan masyarakat pluralnya.

Santri dan Potensi Islam Progresif di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri dan Potensi Islam Progresif di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri dan Potensi Islam Progresif di Indonesia

Islam progresif menawarkan sebuah metode ber-Islam yang menekankan pada terciptanya keadilan sosial, kesetaraan gender dan pluralisme keagamaan. Setidaknya itu yang dapat dipahami tentang pemaknaan “progresif” menurut Omid Safi (What is Progressive Islam?: 2005).

Keadilan sosial sebagai makna pertama progresif, menekankan spirit kembali kepada pesan moral al-Qur’an untuk berbuat adil sebagaimana dalam surah al-Maidah [5]: 8 dan al-Nahl [16]: 90. Meskipun dalam surah terakhir ini tuntutan keadilan oleh Allah Swt. seringkali ditafsirkan eksklusif untuk antar Muslim saja, bukan dengan orang yang dilabeli kafir, berlandaskan penafsiran secara emosional-ideologis terhadap beberapa ayat lain, di antaranya surah al-Taubah [9]: 73 dan 123, al-Fath [48]: 29 dan al-Tahrim [66]: 9.

Kesetaraan gender, sebagai manifestasi kedua progresivitas Islam, meskipun di Indonesia masih tidak mendapatkan posisinya secara utuh, namun juga termasuk dalam spirit al-Qur’an. Dapat kita tilik misalkan dalam persoalan poligami. Fazlur Rahman (w. 1988) melalui teori gerak ganda interpretasi (double movement) mengedepankan aspek legal-moral ketika memahami ayat tentang poligami. Penekanan aspek legal-moral dalam teori Rahman ini jauh lebih objektif memahami ayat ketimbang interpretasi klasik yang tidak jarang bernuansa ideologis susio-kultural mufasir terdahulu yang tak lagi dapat dikontekstualisasikan.

Sang Pencerah Muslim

Sedangkan manifestasi ketiga, yakni pluralisme keagamaan, merupakan hal yang tidak dapat dihindari di Indonesia. Penduduk dari pelbagai ras, suku bahkan agama menjadikan sikap inklusif keberagamaan sebuah alternatif yang niscaya. Di samping itu sebenarnya keragaman tersebut tetap berada dalam koridor Allah, sunnatullah. Dengan demikian maka menentang pluralitas tidak saja menyalahi sunnatullah yang telah diterangkan al-Qur’an, tetapi juga mencederai koridor Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia. Sebagai masyarakat yang pemahaman keagamaannya lebih baik daripada mereka yang non-santri, maka di sinilah santri memegang peran. Sikap “progresif” yang sebenarnya linear dengan statusnya sebagai kaum agamis mesti mendapat perhatian yang lebih serius.

Menarik dicatat bahwa di sisi lain, santri juga berpotensi menjadi kaum ekstremis dengan proyek takfiri-nya. Ini tidak dapat disangkal, karena literatur keagamaan yang diajarkan di pesantren lebih cenderung kepada pemahaman keagamaan pemikir salaf yang terdapat dalam kitab kuning. Predikat paradoks bagi penyandang status “santri” kemudian menjadi kegelisahan tersendiri dalam konteks masa depan Indonesia. Problematika ini kemudian menemukan pemecahannya dengan adanya pendidikan keagamaan yang mengedepankan sikap moderat, atau yang umumnya diistilahkan dengan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI), baik dalam nomenklatur STAIN, IAIN maupun UIN.

Umumnya, meskipun tidak secara keseluruhan, dapat dibuat generalisasi bahwa para mahasiswa di kampus PTAI tersebut adalah mereka yang concern-nya terhadap kajian keislaman lebih mendominasi.Dalam hal ini, para santri ada di antara mereka. Meski derasnya arus pemikiran progresif yang diusung PTAI mendapat reaksi yang serius oleh Hartono Abdul Jaiz dengan publikasi bukunya, Ada Pemurtadan di IAIN (2005), namun reaksi agresif tersebut sama sekali tidak berdasar dan tidak berbobot akademis, tetapi lebih memprioritaskan aspek emosionalnya. Dengan dalih mempertahankan Islam yang dianggapnya telah diobok-obok kaum progresif-liberal, Hartono mengeluarkan sanggahan-sanggahan yang seringkali tidak beretika, hingga akhirnya ia juga mendapat tanggapan setimpal oleh Nur Kholis Setiawan, santri alumni Pesantren Tebu Ireng, Jombang, dan sarjana doktoral Bonn University, Jerman.

Sang Pencerah Muslim

Keberadaan pemikir-pemikir progresif seperti Nur Kholis, dan tokoh lain seperti Ulil Abshar Abdalla yang kontroversial dengan JIL-nya beberapa tahun silam, megindikasikan bahwa potensi santri dengan kemampuannya mengkaji literatur-literatur bahasa Arab jauh lebih baik daripada mereka yang tidak pernah belajar di pesantren. Kita telah melihat bahwa kebanyakan para pemuda yang tergabung dalam kelompok-kelompok keagamaan ekstremis, adalah mereka yang pemahaman keagamaannya di bawah rata-rata. Doktrin yang terkesan agamis mudah sekali menjadikan mereka bertindak ceroboh, karena mereka tidak pernah mengerti duduk persoalan yang dihadapinya. Mereka telah menjadi sasaran empuk Muslim golongan kanan dalam melancarkan aksinya yang seringkali beriklim politis.

Kesadaran pengetahuan (al-wa’y al-‘ilm) dapat dilacak bahkan dalam khazanah turats klasik. Menurut Nur Kholis Setiawan (2008: 5) yang tidak bisa melacak hal tersebut hanyalah orang-orang narrow minded alias tidak memiliki bekal pengetahuan yang memadai. Bagi Nur Kholis, justru khazanah intelektual klasik/turats-lah yang menjadi pijakan revitalisasi semangat terbukanya pintu ijtihad (2008: 17). Oleh karena turats didominasi literatur berbahasa Arab, maka sekali lagi, potensi santri untuk memahami turats memberikannya peluang memahami pemikiran keagamaan (al-fikr al-diniy) secara kaffah, ekstensif, yang dengan alat bantu (istimdad) ilmu humaniora yang telah dipelajarinya di PTAI pada akhirnya akan melahirkan sikap progresif. Pemikiran progresif tersebut akan menjadi sebuah upaya depolitisasi Islam dan menghindari pensakralan pemikiran keagamaan (taqdis al-fikr al-diniy).Santri dengan pemikiran progresifnya, dengan demikian, akan memeran kiprah yang besar dalam menjadikan Indonesia yang berkeadilan dan sejahtera.

*

Penulis adalah mahasiswa Ilmu al-Qur’an dan Tafsir (IQT) di STAIN Pamekasan, Alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan, Madura.

Dari Nu Online: nu.or.id

Sang Pencerah Muslim AlaNu, Daerah Sang Pencerah Muslim

Senin, 05 Maret 2018

Dua Amanah yang Diemban NU Menurut Kiai Said

Jakarta, Sang Pencerah Muslim. Genap berusia 92 tahun, Nahdlatul Ulama (NU) akan tetap memegang dua amanah yang diembannya, yakni agama dan tanah air.

Dua Amanah yang Diemban NU Menurut Kiai Said (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Amanah yang Diemban NU Menurut Kiai Said (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Amanah yang Diemban NU Menurut Kiai Said

Hal ini ditegaskan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj saat memberikan sambutan dalam rangka peringatan Harlah ke-92 NU di Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari, Kalideres, Jakarta Barat, Rabu (31/1).

Dua hal penting dalam menjaga amanat keagamaan yang perlu dipegang teguh, yakni tawasut dan tasamuh. Tawasut berarti moderat, beradi di posisi tengah. Artinya, NU tidak radikal dan tidak liberal. Pun tidak tekstual atau hanya mengandalkan akal.

“Sikap moderat ini tidak akan terwujud kecuali harus didukung dengan ilmu pengetahuan,” katanya kepada ribuan warga NU yang memenuhi masjid tersebut.

Sang Pencerah Muslim

Hal kedua yang mesti dipegang teguh dalam rangka mengemban amanah agama adalah tasamuh atau toleran. Rasulullah saw juga orang yang toleran. Ia hidup bersama warga yang berbeda agama. 

“Orang toleran itu berakhlak,” katanya.

Sementara itu, amanat menjaga tanah air (wathaniyah) adalah menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan dasar Pancasila. “Pancasila tidak mengurangi keislaman, Islam tidak merusak Pancasila,” tegasnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah itu berharap agar NU bermanfaat, berguna, dan menjadi faktor penting untuk perdamaian dunia.

Sang Pencerah Muslim

Sebelum menyampaikan sambutannya, kiai asal Cirebon itu menerima cenderamata dari Duta Besar Kerajaan Arab Saudi Osama bin Mohammed Abdullah Al Shuaibi. Osama menyampaikan rasa syukur dan suatu kehormatan bisa berada di tengah para ulama NU.

Kegiatan yang diawali dengan salat Isya dan gerhana berjamaah itu dihadiri beberapa tokoh lainnya seperti Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko yang mewakili Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Sosial Idrus Marham, Menteri Desa PDTT Eko Putro Sandjojo, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Direktur Wahid Foundation Yeni Wahid, dan sebagainya.

Pada pertengahan acara, para pejabat tersebut menerima potongan tumpeng dari PBNU yang diwakili oleh Rais Aam Syuriyah PBNU KH Ma’ruf Amin, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Sekjen PBNU H Helmy Faisal Zaini, dan Ketua PBNU H Marsudi Syuhud. (Syakir Niamillah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Sang Pencerah Muslim Hadits, Humor Islam Sang Pencerah Muslim

Minggu, 04 Maret 2018

IPNU-IPPNU Kadur Pamekasan Buka Olimpiade Matematika

Pamekasan, Sang Pencerah Muslim. Olimpiade Mathematic And English Competition (MEC) yang digelar IPNU-IPPNU Kadur telah dibuka, Sabtu (19/1). Ketua MWCNU Kadur Pamekasan, KH Baidowi Absom didapuk sebagai pembuka kegiatan yang dilangsungkan di Pondok Pesanten Sumber Gayam.

IPNU-IPPNU Kadur Pamekasan Buka Olimpiade Matematika (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Kadur Pamekasan Buka Olimpiade Matematika (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Kadur Pamekasan Buka Olimpiade Matematika

Pembukaan yang dilangsungkan pagi hari tersebut ditempatkan di Auditorium SMA Al-Falah, Sumber Gayam, dihadiri oleh petinggi NU Kadur, Ketua PC IPNU Pamekasan, Ahmad Nasiruddin, pengurus pesantren, dan 30 peserta beserta dewan guru yang mendampinginya.

Pantauan Sang Pencerah Muslim, pembukaan tersebut berlangsung khidmat. Belasan panitia yang sebelumnya super sibuk, turut serta di dalamnya.

Sang Pencerah Muslim

Faisol Ansori, Ketua IPNU Kadur, menegaskan bahwa awalnya keraguan akan kesuksesan kegiatan MEC menyelimuti pikirannya. Sebab, kata Faisol, seminggu menjelang Hari H, yang mendaftar hanya 2 orang.

Sang Pencerah Muslim

"Tapi ternyata, mencapai 30 orang. Ini sangat menyenangkan," sela Baitiyah, Ketua Panitia, sembari menuturkan, peserta tersebut terdiri dari 12 delegasi MTs atau sederajat, dan 18 delegasi MA atau sederajat.

Helliyatul Mukarramah, Ketua IPPNU Kadur, menyatakan bahwa olimpiade MEC bakal dilangsungkan dua hari aktif, tanggal 19 - 20 Januari.

"Pada tanggal 19 Januari, peserta yang 30 ini, nantinya akan diambil 10 besar. Pada 20 Januari, akan bersaing lagi untuk memperebutkan juara 1, 2, dan atau 3. Antara juara tingkat MTs dan MA, nantinya dipisah," terang Helen, panggilan Helliyatul Mukarramah.

Sekretaris IPNU Kadur, Fathorrahman, menceritakan betapa terselenggaranya kegiatan tersebut tidak lepas dari kesemangatan pengurus IPNU dan IPPNU Kadur.

"Insya Allah, pasti sukses kalau disertai niatan ibadah dan kerja sama yang kuat di antara kita," ujar Oong, panggilan akrab Fathorrahman.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Hairul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Sang Pencerah Muslim Cerita, Ahlussunnah, Hikmah Sang Pencerah Muslim

Ansor Targetkan Enam Juta Kader Aktif

Lombok, Sang Pencerah Muslim. Ansor saat ini secara nasional menargetkan 6 juta kader aktif untuk lima tahun ke depan. Dengan memulai dari sekarang, Pimpinan Pusat gencar mendorong kepada Cabang maupun Wilayah se Indonesia agar target tersebut dapat terwujud berbasis data yang jelas seperti nomor kontak dan alamat lengkap kader.  

Hal ini disampaikan oleh Risqon Syah, wakil Sekjen PP GP Ansor kepada Sang Pencerah Muslim disela-sela Pelatihan Kader Dasar (PKD)dan Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL), Sabtu 23/05 di pesantren Darul Quran Bengkel Lombok Barat.

Ansor Targetkan Enam Juta Kader Aktif (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Targetkan Enam Juta Kader Aktif (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Targetkan Enam Juta Kader Aktif

Istilah kepemimpinan dalam pelatihan Ansor ini bertujuan untuk melatih dan mencetak pemimpin, baik pemimpin Ansor, NU ke depan secara organisasi dan pemimpinan daerah maupun nasional ke depan.

Sang Pencerah Muslim

Selain itu, Ansor di tingkat pusat sedang merevitalisasi kegiatan Ansor untuk membuat kader-kader tangguh dan mendorong kepada Pimpinan Wilayah yang ada di tingkat Propinsi dan Pimpinan Cabang yang ada di tingkat Kabupaten/kota se Indonesia untuk membentuk Rijalul Ansor yang akan mempertahankan tradisi-tradisi Ahlussunah wal Jamaah seperti tahlilan, srakalan, maulidan dan tradisi-tradisi NU lainnya.

Sang Pencerah Muslim

Rijalul Ansor nanti akan melakukan kegiatan di masjid-masjid agung kabupaten/kota setempat dengan mengumpulkan 200-300 anggota maupun kader Ansor. Sumber peserta ini akan disupport oleh Ranting-Ranting Ansor yang ada di kecamatan maupun desa/kelurahan.

Ini semua menjadi upaya Ansor secara nasional untuk membantu dakwah dan kemajuan bagi NU itu sendiri.

Ia menambahkan, Nusa Tenggara Barat khususnya Lombok yang menjadi pulau seribu masjid harus diisi oleh kegiatan-kegiatan keagamaan ala NU agar masjid yang ada tidak vakum dan tidak diambil oleh kelompok-kelompok garis keras yang berpotensi melahirkan terorisme.

Ini penting dan cara inilah Ansor menjaga eksistensi Pancasila dan komitmen memepertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Dan kami dari Pimpinan Pusat Ansor akan memantau dan monitoring dari Jakarta melalui Wilayah dan Cabang yang ada,” katanya.

Di tempat yang sama, Ketua PC GP Ansor Lombok Barat Mujahid Ahmad mengaku siap mempertahankan tradisi-tradisi yang dimaksud oleh Pimpinan Pusat. “Karena saat ini sudah kami lakukan hanya saja memang belum terbentuk Rijalul Ansor secara formal,” tandasnya.

“Tapi yang jelas, menjadi tanggung jawab kami saat ini adalah bagaimana membentuk Ranting-Ranting di tingkat desa/kelurahan. Dan dalam waktu dekat setelah kegiatan PKD ini kami akan membentuk dan menajalankan aman organisasi tersebut,” janjinya. (hadi/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Sang Pencerah Muslim Ahlussunnah, Hikmah Sang Pencerah Muslim

Apakah Hadits Nabi Dicatat Sejak Masa Sahabat?

Dalam kajian ilmu hadits, para ulama kebanyakan menyebutkan bahwa permulaan hadits disusun dan dicatat adalah sekitar abad kedua Hijriyah oleh Ibnu Syihab az Zuhri, atas titah Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Dinasti Umayyah. Pendapat ini dikuatkan oleh Imam Malik bin Anas.

Disebabkan oleh jauhnya jarak waktu antara masa hidup Nabi dengan mulai disusunnya kitab-kitab hadits, hal ini menjadi sasaran kritik pengkaji hadits orientalis maupun kalangan Muslim sendiri. Keaslian hadits sebagai sumber hukum Islam diragukan.

Mereka menyebutkan bahwa keterlambatan penyusunan hadits ini disebabkan beberapa kecenderungan. Pertama, konon budaya lisan di periode awal Islam lebih populer bagi kalangan sahabat dan tabiin, begitu pula kemampuan hafalan mereka yang luar biasa. Alasan kedua adalah memang Nabi melarang para sahabat untuk menulis hadits. Kemudian yang terakhir, para sahabat memang kebanyakan tidak mampu menulis.

Apakah Hadits Nabi Dicatat Sejak Masa Sahabat? (Sumber Gambar : Nu Online)
Apakah Hadits Nabi Dicatat Sejak Masa Sahabat? (Sumber Gambar : Nu Online)

Apakah Hadits Nabi Dicatat Sejak Masa Sahabat?

Bagaimana mungkin sejarah yang sudah terpaut nyaris dua abad bisa dicatat secara tepat? Sejauh mana budaya lisan bisa dipercaya dibanding tulisan?

Menjawab hal itu, seorang Begawan hadits Syekh Muhammad Mustafa Azami menyatakan bahwa hadits Nabi telah dicatat sejak masa sahabat. Dalam bukunya yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berjudul Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, Syekh Azami menyimpulkan beberapa catatan penting terkait bagaimana hadits sebenarnya telah dicatat sejak masa Rasulullah hidup.

Para sahabat, berikut tabiin pendahulu, dianggap lebih mengutamakan kemampuan hafalan dan budaya lisan. Hal ini menjadi musykil melihat realitas bahwa meski kecerdasan seseorang bisa sangat hebat, namun tak bisa dipungkiri bahwa melakukan generalisir, gebyah uyah, bahwa seluruh sahabat memang hebat hafalannya adalah kesimpulan yang terburu-buru. Kecerdasan manusia tentu sangat beragam. Maka, pencatatan hadits dibutuhkan sejak masa awal Islam.

Sang Pencerah Muslim

Selanjutnya adalah larangan Rasulullah untuk menulis hadits. Azami meneliti sekian hadits yang menjadi alasan bahwa hadits dilarang ditulis oleh Rasulullah. Dari sekian riwayat, hanya satu yang menurut beliau bisa dipertimbangkan, yaitu riwayat dari Abu Said al Khudri dalam Shahih Muslim.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? - ? ?: ? ? - ? ? ? ? ?

Sang Pencerah Muslim

Artinya: “...Janganlah menulis ucapanku, dan barangsiapa menulis ucapanku selain Al-Qur’an, hendaknya ia menghapusnya. Dan barangsiapa mendusta atas diriku – kata Hammam, saya kira. Nabi bersabda – dengan sengaja, maka bersiaplah untuk masuk neraka.”

Terkait larangan Nabi untuk menulis hadits sebagaimana di atas, Imam Khatib al-Baghdadi menyebutkan bahwa beberapa sahabat dan tabi’in memiliki motif tersendiri mengapa mereka enggan untuk mencatat hadits. 

Salah satu alasan yang populer adalah khawatir tercampurnya isi hadits dengan Al Qur’an. Nabi melarang menulis hadits, bersamaan dengan menulis Al-Qur’an alih-alih di lembar yang sama agar tidak campur aduk. Demikian penjelasan hadits di atas, sebagaimana dijelaskan Imam an Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

Nabi selama hidup banyak berurusan dengan banyak penguasa di luar Madinah.Terjadi surat menyurat dari Nabi kepada mereka. Dengan demikian, tentunya para sahabat banyak yang memiliki kemampuan menulis yang baik untuk tugas menulis surat itu. Begitupun Al-Qur’an yang juga banyak ditulis di lembaran maupun pelepah kurma. Alasan bahwa kebanyakan sahabat tidak dapat menulis dapat terbantahkan.

Banyak hadits-hadits shahih yang menyebutkan bahwa Nabi mengizinkan para sahabat untuk menulis hadits dari beliau, baik yang berupa surat, maupun pernyataan dan ibadah beliau. Beberapa sahabat seperti Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, Ali bin Abu Thalib, disebutkan pernah menulis hadits dari Nabi.

Dari berbagai keterangan di atas, penting diketahui meskipun para sahabat dan tabiin masa awal sangat memerhatikan kemungkinan tercampurnya lafal Al-Qur’an dan hadits, namun hal ini tidak menghalangi bahwa Nabi sendiri sudah memperkenankan hadits-hadits dari beliau untuk dicatat dan disebarkan ke generasi selanjutnya. 

Maka menolak hadits karena alasan bahwa ia tidak tercatat sedari masa Nabi, agaknya kurang tepat. Nabi sendiri memperkenankan hadits dan ucapan beliau ditulis selama tidak bersamaan dengan Al-Qur’an. Penjelasan ini kiranya dapat menambah semangat untuk mempelajari pribadi Nabi secara bijak. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Sang Pencerah Muslim Ubudiyah, Meme Islam Sang Pencerah Muslim

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Sang Pencerah Muslim sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Sang Pencerah Muslim. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Sang Pencerah Muslim dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock